Pasar Properti Melambat, Ini Momentum Beli Perumahan di Solo?

Pasar properti nasional tercatat melambat sepanjang 2025, tetapi di balik kondisi itu tersimpan peluang yang justru menguntungkan calon pembeli Perumahan di Solo. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di pasar primer tumbuh hanya 0,83% secara tahunan pada Triwulan IV-2025, mencerminkan harga yang relatif stabil, bukan turun juga belum melonjak. Inilah kondisi yang oleh para analis disebut sebagai window of opportunity.

Properti Melambat Perumahan di Solo

Mengapa Pasar Properti Melambat?

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut sektor properti dan konstruksi melambat sepanjang 2025. Meski begitu, penjualan rumah primer menunjukkan tanda pemulihan di akhir tahun. Kondisi ini menegaskan kebutuhan hunian masih tetap kuat.

Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI), Bambang Ekajaya, menjelaskan bahwa maraknya pemutusan hubungan kerja menahan daya beli masyarakat. Insentif bagi dunia usaha yang terbatas juga memperlambat pergerakan pasar. Faktor-faktor tersebut membuat sektor properti melambat dan pembeli cenderung menunda keputusan. Akibatnya, tingkat persaingan di pasar ikut menurun.

Momentum Beli Perumahan di Solo: Harga Stabil, Potensi Naik

Perlambatan nasional tidak sepenuhnya tercermin di daerah. Saat properti melambat secara nasional, Solo justru mencatat ketahanan pasar yang cukup kuat. Kota Solo mencatat kenaikan harga Perumahan seken tertinggi secara bulanan sebesar 6,3% pada Q3-2024, didorong oleh kedekatan dengan Bandara Adi Soemarmo, pertumbuhan ekonomi UMKM, dan daya tariknya sebagai kota budaya.

Baca juga: Kenapa Perumahan Dekat Bandara Banyak Dicari?

Dalam lima tahun terakhir, meski dikatakan pasar properti melambat, malah harga Perumahan di Solo meningkat rata-rata 5–9% per tahun. Dengan beberapa kawasan mencatatkan kenaikan hingga 12% per tahun, terutama proyek yang berada dekat akses tol dan pusat aktivitas ekonomi. Saat pasar sedang tenang seperti sekarang, harga belum bergerak agresif dan itulah celah terbaik untuk masuk.

Sinyal Pemulihan Properti yang Melambat Sudah Terlihat

Meski properti melambat, kondisi ini tidak akan berlangsung selamanya. Sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi BI sebesar 5,4% pada 2026, pertumbuhan sektor properti diprediksi bisa mencapai 8%, mengacu pada konsep growth elasticity yang menempatkan pertumbuhan properti pada kisaran 1,5–1,7 kali pertumbuhan ekonomi.

Pengamat properti Anton Sitorus memproyeksikan adanya ruang penurunan suku bunga KPR ke kisaran 4,5–5,5 persen seiring pelonggaran kebijakan moneter, dan menilai 2026 sebagai momentum strategis bagi investor yang berani mengambil langkah lebih awal.

Faktor Pendorong Harga Perumahan di Solo ke Depan

Ketika permintaan tinggi bertemu dengan ketersediaan lahan yang terbatas, harga menjadi sulit ditekan. Permintaan perumahan di Solo datang dari dua sisi, end-user seperti keluarga muda dan investor yang melihat Solo sebagai kota dengan potensi pertumbuhan nilai properti yang stabil.

Infrastruktur yang terus berkembang, termasuk Tol Solo–Yogya yang akan beroperasi penuh membuka koridor baru dan menaikkan harga tanah di sepanjang jalurnya. Inflasi biaya konstruksi pun turut mengerek harga jual rumah baru secara alami. Artinya, harga saat ini kemungkinan besar tidak akan bertahan lama di level yang sama.

Tunggu Apa Lagi?

Pasar yang sedang melambat bukan berarti tidak menarik, justru sebaliknya. Selama permintaan riil tetap ada dan infrastruktur terus berkembang, harga properti di Solo tinggal menunggu momentum untuk kembali naik.

Ingin memanfaatkan momentum ini sebelum harga bergerak lebih tinggi? PT Puri Alam Sentosa menghadirkan pilihan hunian strategis di kawasan Solo dengan harga yang masih kompetitif. Hubungi tim kami untuk informasi unit dan konsultasi pembelian tanpa biaya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *