Festival Payung di Solo: Menikmati Seni dan Pesona Budaya
Festival Payung di Solo kembali digelar akhir pekan lalu, menghadirkan pesta Profilseni budaya yang meriah di Taman Balekambang. Event ini dikenal sebagai Festival Payung Indonesia (Fespin) ke-13 tahun 2026, berlangsung Jumat hingga Minggu, 4-6 September 2026. Ribuan pengunjung memadati lokasi untuk menyaksikan pameran payung, pertunjukan seni, dan pasar UMKM lokal selama tiga hari penyelenggaraan.

Rangkaian Kegiatan Festival Payung Indonesia 2026
Fespin XIII 2026 mengusung tema besar “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri” yang mengangkat filosofi padi sebagai simbol kemakmuran dan kelestarian alam. Tidak hanya menghadirkan payung dalam berbagai bentuk, festival ini mempertemukan seni, tradisi, kreativitas, UMKM, kuliner, dan komunitas dalam satu ruang. Skala penyelenggaraannya pun cukup besar.
Badan Pelaksana Otorita Borobudur mencatat sekitar 5.000 karya payung tradisi dan kontemporer, melibatkan lebih dari 3.000 seniman, perajin, dan artisan dari 150 grup seni, serta delegasi dari Thailand, Jepang, Korea Selatan, India, dan Pakistan.
Berikut ragam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut:
- 163 pertunjukan tari, musik, fashion, dan teater di tiga lokasi utama Taman Balekambang,
- Workshop pembuatan payung tradisional bersama para perajin dan komunitas,
- Pameran lukisan internasional bertema “Ibu Bumi” di Gedung Kesenian,
- Peluncuran buku “Catra Padi” hasil karya 48 penulis, dan
- Parade Payung Nusantara dan pasar festival dengan puluhan UMKM lokal.
:
Sumber: Indonesia.travel.com
Suasana dan Respons Pengunjung
Suasana Taman Balekambang selama festival berlangsung ramai sejak pagi hingga malam hari. Panggung pertunjukan tersebar di tiga titik, sehingga pengunjung bisa berpindah menikmati berbagai jenis kesenian.
Direktur Fespin, Heru Mataya, menjelaskan konsep acara yang mengajak pengunjung ikut merasakan proses kreatif para perajin secara langsung.
“Konsep saya adalah memindahkan dapur kreatif mereka ke sini,” ujar Heru Mataya, dikutip dari Solopos.com.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya melihat hasil akhir karya, tetapi juga bisa belajar langsung dari prosesnya.
Antusiasme pengunjung terlihat dari jumlah kehadiran yang terus meningkat tiap tahun. Tahun lalu, festival ini tercatat menarik sekitar 32.000 pengunjung, dan panitia berharap angka tahun ini bisa melampaui capaian tersebut.
Prestasi Fespin juga diakui secara nasional lewat penghargaan Top 3 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata.
Ragam Festival Bukti Daya Tarik Kawasan di Kota Solo
Festival Payung hanyalah satu dari banyak agenda budaya yang rutin digelar di Kota Solo sepanjang tahun. Keberagaman acara seperti ini menjadi bukti nyata bahwa kawasan Solo punya daya tarik kuat, baik dari sisi wisata maupun kehidupan sehari-hari warganya.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, turut menegaskan peran festival ini bagi perkembangan kota. Menurutnya, festival ini “bukan sekadar perayaan estetika visual, melainkan motor penggerak ekosistem ekonomi kreatif” bagi Kota Solo, sebagaimana dikutip dari laman resmi Badan Otorita Borobudur.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa event budaya seperti Fespin punya dampak yang lebih luas dari sekadar hiburan semata.
Kawasan yang aktif dengan berbagai festival budaya biasanya juga diiringi pertumbuhan fasilitas dan infrastruktur di sekitarnya. Daya tarik tersebut membuat perumahan di Solo diminati keluarga muda, seiring gaya hidup dinamis yang tecermin dari tingginya minat terhadap hunian berkonsep modern.
Lingkungan yang hidup dengan berbagai kegiatan budaya juga berdampak positif pada kenyamanan psikologis penghuninya.
Baca Juga: Perumahan di Solo yang Murah: Tren Hunian Nyaman & Strategis
Dari Menikmati Festival hingga Memilih Hunian di Solo
Hubungan antara festival dan hunian mungkin terlihat sederhana, tetapi keduanya memiliki keterkaitan pada satu hal: kualitas kawasan.
Kawasan yang memiliki aktivitas budaya, ruang publik, komunitas, kuliner, dan berbagai agenda masyarakat cenderung menawarkan pengalaman hidup yang lebih beragam. Bukan berarti setiap festival secara langsung menentukan nilai sebuah rumah, tetapi keberagaman aktivitas dapat menjadi salah satu bagian dari daya tarik sebuah kota.
Semakin sering Anda berkunjung dan menikmati berbagai kemeriahan acara di Kota Solo, pertanyaan berikutnya mungkin muncul: bagaimana jika ingin menjadikan kawasan Solo sebagai tempat tinggal?
Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah hunian yang dikembangkan oleh PT Puri Alam Sentosa.
Tertarik Tinggal di Kawasan Sekitar Solo dan Hidup Berbudaya?
Semangat gotong royong dan kreativitas yang terlihat sepanjang Festival Payung ini mencerminkan karakter Kota Solo yang hangat dan ramah. Kalau Anda tertarik tinggal di kawasan yang dekat dengan berbagai kegiatan budaya seperti ini, Citra Buana Residence 2 dari PT Puri Alam Sentosa bisa jadi pilihan hunian yang tepat. Anda juga bisa cek pilihan tipe rumah baru dan berkualitas dari kami, atau lihat pilihan hunian lain dari Citra Buana Residence 2 untuk membandingkan lokasi dan tipe yang sesuai kebutuhan Anda.
Untuk info unit, promo, dan jadwal survei lokasi, bisa hubungi tim marketing kami lewat Instagram @purialamsentosa.
Pertanyaan Seputar Festival Payung di Solo
Apa itu Festival Payung Indonesia?
Festival Payung Indonesia (Fespin) adalah festival tahunan yang menampilkan seni payung tradisi dan kontemporer, pada tahun 2026 digelar di Taman Balekambang, Solo. Festival ini sudah berlangsung selama 13 tahun dan menjadi salah satu agenda budaya unggulan nasional.
Kapan Festival Payung 2026 di Solo diselenggarakan?
Festival Payung Indonesia ke-13 tahun 2026 diselenggarakan pada Jumat hingga Minggu, 4-6 September 2026. Lokasi acara berada di Taman Balekambang, Kota Solo.
Apakah Festival Payung ini terbuka untuk umum dan gratis?
Festival ini terbuka untuk umum dan menjadi salah satu daya tarik wisata Kota Solo. Sebaiknya Anda cek informasi resmi terbaru soal tiket masuk sebelum berkunjung ke acara serupa di tahun berikutnya.
Apakah tinggal dekat kawasan budaya seperti Taman Balekambang menguntungkan?
Tinggal dekat kawasan yang aktif dengan kegiatan budaya biasanya diiringi perkembangan fasilitas dan infrastruktur di sekitarnya.











Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!